Kosgoro Jawab Era BD

KOSGORO DAN RELEVANSI PERJUANGANNYA DALAM MENGHADAPI TANTANGAN DEMOGRAFI DAN GLOBALISASI

Dalam kiprah aktifitasnya, KOSGORO berlandaskan pada Pedoman Perjuangan dengan Tri Dharma KOSGORO (pengabdian, kerakyatan, solidaritas), yang merupakan kristalisasi nilai-nilai pengabdian yang bersumber dari kebersamaan yang terbangun pada masa revolusi 45 oleh para pendirinya ketika masih tergabung dalam kelompok Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Pada tahun 1957, kebersamaan tersebut dengan segala dinamika dan romantikanya kemudian ditransformasikan sebagai landasan moral pergerakan aktifitas organisasi KOSGORO. Konsepsi perjuangan tersebut diimplementasi lebih lanjut dalam perkembangan keorganisasian melalui pembentukan lembaga-lembaga turunan, dengan fokus program antara lain pada kelompok mahasiswa, pemuda, seniman/budayawan, penggiat hukum, rohaniwan, wanita, sarjana, tani-nelayan, bahariwan, pendidikan, koperasi dan lain sebagainya dengan selalu mengikuti setiap perubahan perkembangan dalam konstelasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kini, setelah 60 tahun berkiprah dalam aktifitas sosial kemasyarakatan, KOSGORO senantiasa dituntut kepeduliannya terhadap berbagai persoalan bangsa. Pada dekade ke-2 awal abad 21 ini, tantangan yang harus dihadapi bangsa Indonesia adalah tantangan globalisasi, yang dengan segala kemajuan teknologi memberikan suatu kenyataan akan hampir tiadanya batasan ruang dan waktu dalam interaksi antar bangsa di dunia. Interaksi tersebut berwujud dalam beragam bentuk, mulai dari budaya, ekonomi, politik dan lain sebagainya, yang berlaku secara cepat lewat kemajuan teknologi komunikasi. Sehingga siapapun dapat mengakses apapun hanya dalam hitungan menit tanpa harus melakukan banyak aktifitas fisik.

Era globalisasi ini berbarengan dengan adanya peristiwa langka yang hanya terjadi sekali dalam sejarah bangsa Indonesia, yakni peristiwa demografi dengan indikator utama melonjaknya jumlah populasi kelompok usia 15 – 64 tahun yang dikategorikan sebagai kelompok usia produktif dan peristiwa demografi ini lebih dikenal sebagai ‘bonus demografi’ atau Devident Demografic. Sekaligus juga era ini menandai hadirnya tantangan baru yakni ‘Tantangan Demografi’, karena dibutuhkan perencanaan yang matang dan berkesinambungan untuk menghadapai era bonus demografi ini, yang akan berlangsung sejak tahun 2012 hingga tahun 2045 mendatang.

Tantangan demografi dan globalisasi menjadi topik utama dalam diskusi yang diselenggarakan oleh PPK KOSGORO pada Senin, 12 Juni 2017 di Wisma Mas Isman, Jakarta. Dengan didampingi Mas Hayono Isman, Mas Syahrul Bungamayang dan Mas Effendi Jusuf, Mas Sarwono Kusumaatmadja menjadi pemateri tunggal dalam diskusi ini. Mengawali paparannya, beliau yang juga sebagai Ketua Yayasan Bhakti Bangsa suatu lembaga swadaya masyarakat yang peduli dengan bonus demografi, menyampaikan bahwa sebagai isu…. peristiwa demografi ini ternyata tidak mendapat perhatian yang serius dari banyak kalangan, bahkan para elite pemerintahan dan pengelola negara ini juga sangat sedikit yang paham dan peduli dengan permasalahan ini. Padahal…lanjutnya, peristiwa bonus demografi ini sarat dengan tantangan yang sangat berat dan butuh komitmen serta sinergitas segenap komponen bangsa ini.

Sebagai gambaran untuk memahami bonus demografi, disampaikan bahwa sejak tahun 2012 mulai terjadi lonjakan jumlah penduduk dengan rata-rata usia antara 15 – 64 tahun. Kelompok usia ini disebut dengan kelompok usia produktif, yang jumlahnya hampir mencapai 2/3 bagian dari populasi penduduk Indonesia. Kaitannya dengan kata ‘bonus’, bahwa kelompok usia produktif ini berpotensi menjadi pendorong bagi kemajuan ekonomi masyarakat, karena jumlahnya yang besar dan tanggungan yang sedikit sehingga memungkinkan untuk dapat menabung sekaligus berinvestasi. Rasio ketergantungan (dependency ratio) sebesar 46,8% artinya 100 orang produktif akan menanggung 47 orang yang tidak produktif. Kondisi inilah yang kerap disebut sebagai ‘jendela peluang’ (windows of opportunity) yang menjanjikan banyak harapan bagi kemajuan masa depan bangsa, namun juga harus dibarengi dengan beberapa persyaratan tertentu agar peluang ini dapat menjadi bonus bagi bangsa Indonesia.

Persyaratan tersebut antara lain: optimalisasi potensi usia produktif tersebut dengan bekal kapasitas dan kompetensi yang cukup sebagai bekal dalam berkreasi, berinovasi, menjadi profesional dalam bidang serta memiliki daya saing yang tinggi, sehingga dapat bekerja dengan pendapatan dan jaminan sosial yang baik, yang mampu ditabung sebagian atau diinvestasikan pada suatu kegiatan usaha. Selain itu juga harus terjamin kesehatannya dengan gizi dan pola hidup yang sehat serta kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan dalam rangka memperkuat ikatan atau jaringan guna menunjang aktifitas ekonomi produktifnya. Kelompok usia produktif tersebut dapat lebih difokuskan pada bagian terbesar dari populasi ini, yakni generasi muda usia 15 – 30 tahun yang masih memiliki semangat juang tinggi dan jangkauan idealism yang sangat luas.

Kelompok muda ini merupakan asset SDM yang sangat berharga dalam proses pembangunan manusia berkualitas (human capital to human productivity). KOSGORO memiliki modal tersebut, terlihat dari peserta diskusi ini lebih didominasi oleh anak-anak muda. Mas Sarwono menegaskan kembali bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk KOSGORO membangun kembali komitmen perjuangan pengabdiannya dengan menentukan relevansi perjuangannya dengan menempatkan orientasi organisasi sebagai ‘Pusat Inovasi’ dengan generasi muda sebagai penggerak utamanya. Orang-orang muda KOSGORO harus berani merubah pola pikir linier selama ini, untuk mencoba melakukan analisis antithesis sekaligus mengimplementasikannya dalam aktifitas nyata yang positif. Out of the box, menjadi keharusan sebagai tuntutan kemajuan peradaban dalam era globalisasi ini, batasi romantisme masa lalu yang hanya tenggelam dalam kenangan kebesaran yang sudah lewat dan lakukan lompatan untuk membangun kebesaran yang baru.

Romantika masa lalu dapat dijadikan motivasi serta best practice dalam membuat perencanaan ke depan. Tantangan demografi sekarang ini harus dimanfaatkan seoptimal mungkin, dengan melihat keberhasilan Jepang, China dan Korea saat menjalani era bonus demografi. Hal-hal positif tersebut harus dijadikan pelajaran agar kita tidak gagal menghadapi tantangan demografi, sebagaimana kegagalan yang dialami oleh bangsa Syria saat mengalami era bonus demografi. Syria hari ini hancur lebur dalam berbagai konflik karena kelompok usia produktif mereka termasuk dalam kalangan terdidik, berstatus ekonomi cukup namun inovasi dan kreatifitasnya tidak didukung oleh integritas yang kuat, sehingga teknologi yang semakin maju mengendalikan kelompok produktif ini dalam suatu situasi yang memecah belah mereka akibat banyak kepentingan. Ini adalah salah satu contoh dari istilah ‘arab springs’, yang menggambarkan dampak terburuk apabila kendali dipegang oleh teknologi dan operator teknologi tersebut akan menjadi penentu akhir generasi muda yang gamang tersebut.

Tantangan demografi ini juga terkait dengan tantangan ‘Perubahan Iklim’ (climate change), yang dalam kasus Syria ternyata berpengaruh besar dengan adanya kemarau panjang di waktu yang semestinya tidak terjadi. Jadi dalam hal ini perubahan iklim juga menjadi salah satu faktor yang harus diwaspadai, karena berpotensi menjadi handicap bagi perjalanan suatu bangsa dengan pengaruhnya yang tidak kecil. Di Indonesia juga terjadi perubahan iklim dengan segala keterpengaruhannya dan menuntut kewaspadaan yang tinggi, karena terkait dengan konstelasi politik, pertumbuhan dan perkembangan ekonomi makro, kesehatan primer masyarakat bahkan perkembangan karakter pada anak dan remaja yang akan memberikan dampak pada banyak sektor.

Dalam dialog pada kesempatan diskusi ini, beberapa tanggapan dari peserta lebih menyoroti peran KOSGORO dalam situasi yang demikian, sebagaimana disampaikan oleh Mas Suwandi bahwa bonus demografi ini pada intinya adalah membangun kesiapan generasi muda, yang dimulai dari membangun diri sendiri, keluarga, lingkungan, bangsa dan dunia, yang untuk itu harus benar-benar dipastikan memiliki penghasilan yang cukup, kesehatan yang baik, keluarga yang harmonis, lingkungan perkawanan yang baik serta selalu dalam semangat positif. Sedangkan Mas Baroto Isman selaku Ketua Umum Generasi Muda KOSGORO, menanggapi dengan pengakuan bahwa lembaga yang dipimpinnya sekarang ini memang memiliki tanggung jawab yang sangat besar, mengingat populasi anggotanya mayoritas kelompok usia muda antara 20 – 30 tahun yang dalam konteks bonus demografi adalah obyek sekaligus subyek sebagai kekuatan pendorong (engine of power) bagi kemajuan perekonomian nasional.

Sebagai asset utama, Generasi Muda KOSGORO dengan berangkat dari kesadaran tanggung jawab tersebut, mencoba untuk membangun program yang mendukung upaya pencapaian ‘berkah’ atau ‘bonus’ dari peristiwa demografi ini. Sejalan dengan program yang menjadi garis kebijakan pemerintah, salah satunya pada sektor kemaritiman dengan segala aspek terkaitnya. KOSGORO sudah saatnya kembali pada kiprah awalnya meneruskan perjuangan fisik pada masa perang kemerdekaan menjadi perjuangan pemikiran guna membangun perencanaan pembangunan yang berkesinambungan.

Upaya tersebut tak lepas dari komitmen KOSGORO untuk menguatkan kembali komitmen perjuangan tersebut, salah satunya dengan menentukan relevansi perjuangan KOSGORO kini dan kedepan. Tawaran dari Budi Enda Dhaniswara, salah satu peserta diskusi dari Yayasan Siap Manfaat Anak Bangsa mengenaipengembangan sistem aplikasi untuk mendukung usaha pertanian masyarakat dan pengusaha kecil menengah, perlu ditindak lanjuti oleh KOSGORO sama halnya dengan tawaran program GMK untuk fokus pada sektor kemaritiman. Mas Sarwono menegaskan kembali bahwa mungkin kini saatnya bagi KOSGORO untuk membangun organisasi sebagai ‘Pusat Inovasi’ dan inilah yang dimaksud dengan relevansi perjuangan KOSGORO.

Pendapat Mas Sarwono disambut baik oleh Mas Hayono Isman selaku Ketua Umum PPK KOSGORO, sekaligus mengingatkan bahwa kemajuan dan kebesaran KOSGORO masa lalu adalah motivasi untuk KOSGORO sekarang bergerak dan berkembang lebih maju lagi. Dalam penutupannya kembali ditegaskan bahwa forum-forum diskusi seperti ini akan kembali digiatkan oleh KOSGORO melalui Group Diskusi Nasional (GDN) KOSGORO dengan melibatkan secara aktif gerakan, lembaga dan badan-badan dalam KOSGORO sebagai kontributor gagasan guna dibahas matang untuk selanjutnya disusun dalam perencanaan program yang terarah, terukur dan berkesinambungan, utamanya program-program yang diorientasikan untuk menjawab tantangan demografi dalam era globalisasi yang tengah berjalan sekarang ini.

 

Sumber : Hari Widodo – Sekretaris GDN KOSGORO

Post Comment