Selamatkan Generasi Muda

Selang beberapa waktu lalu, di kota penyangga Jakarta dihebohkan dengan kelakuan seorang remaja puteri, pelajar di salah satu sekolah swasta, yang selama dua hari ‘menghilangkan diri’ dengan dugaan motif mencuri perhatian. Menurut cerita, yang bersangkutan sampai larut malam belum juga kembali ke rumah setelah lepas mengikuti kegiatan ekstra sehingga orang tuanya akhirnya melaporkan ke pihak berwajib. Tidak sedikit masyarakat membantu menyebarkan informasi melalui media sosial. Dugaan bermunculan, yang pada umumnya mengarah ke penculikan. Namun anehnya, kerap jalur komunikasi dengan dan dari perangkat gadget remaja puteri tersebut terditeksi, bahkan berulang ada komunikasi dari yang bersangkutan. Singkat cerita, dua hari kemudian petugas berwajib menemukannya tidak jauh dari sekolah. Dan, dari dugaan sementara menurut berita bahwa peristiwa itu dipicu lebih lekat dengan urusan pergaulan remaja ketimbang ranah kriminilitas.

Dengan tidak bermaksud menjeneralisasi, remaja dan kaum muda cenderung rentan dan memiliki resistensi tinggi terhadap dinamika sosial yang berubah dengan cepat. Pendapat klasik menyatakan di usia mereka proses internalisasi nilai dan norma belum terselesaikan dengan sempurna dan sedang mencari bentuk untuk kemudian membentuk kepribadiannya.

Selain dikarenakan proses tersebut, ada pula pendapat yang mentautkannya dengan ketidaksiapan dalam menghadapi perubahan cepat dan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi serta derasnya arus globalisasi saat ini. Akibat dari ketidaksiapan itu, membuat tidak sedikit kalangan remaja terindikasi mengalami gangguan perkembangan psikologis, misal, menjadi lebih agresif dan impulsif, motivasi lemah, tidak peduli, terjebak pergaulan bebas, dan hal negatif lainnya.

Memang, kecanggihan sarana dan piranti teknologi komunikasi dan informasi menawarkan daya tarik luar biasa; menawarkan kemudahan sedemikian rupa tanpa dibatasi sekat ruang dan waktu. Sehingga kapan saja kita mau, informasi apa saja yang diinginkan akan dengan mudah didapatkan. Dunia internet atau dunia maya, dewasa ini telah menjadi pelengkap lekat dari kehidupan sebagian besar diantara kita, terutama di kalangan remaja. Perkenalan dengan dunia itu, bahkan menerpa juga kalangan usia dini. Anak-anak yang belum seharusnya bersentuhan malah tampak sudah sangat akrab bergaul dengannya; sebuah konsekuensi lahir di era digital.

Seperti juga mata uang, kemajuan teknologi juga menampilkan sisi positif dan sisi negatif secara bersamaan. Keduanya harus dapat di menej dengan apik dan bijak. Dan, justru di sini letak kelemahan umumnya para remaja dalam memperlakukan kemajuan teknologi tersebut. Bila tidak hati-hati maka alih-alih manfaat yang diraih, justru imbas negatif yang merugikan yang di petik seperti kasus remaja puteri diawal pembuka diatas. Atau, sebagaimana fakta yang diungkap NGO SEMAI 2045, dimana 93 dari 100 anak SD telah mengakses pronografi; 21 dari 100 remaja melakukan aborsi; 135 anak korban kekerasan setiap bulan; 5 dari 100 remaja tertular penyakit menular seksual; 63 dari 100 remaja berhubungan seks diluar nikah; kasus perkosaan di 34 provinsi; kekerasan seksual di sekolah terjadi di 19 provinsi; dan, kasus incest di 23 provinsi. Mengerikan bukan.

Adalah kewajiban dan tugas pokok para orang tua, pendidik, dan tentunya masyarakat luas untuk secara bersama-sama menjaga bibit generasi agar terhindar dari masalah akibat kekurangjelian dalam mensikapi perubahan jaman di era digital. Kewaspadaan tidak mesti diterjemahkan melalui pengawasan ketat yang malah membuat kreatifitas terpasung. Kewaspadaan juga tidak harus menggiring kearah kemunduran berpikir. Yang diperlukan oleh anak dan remaja kita adalah konsistensi pendampingan dan memberikan rasa nyaman dalam lingkungan terdekatnya.

Mari bantu selamatkan generasi emas kita…

 

Sumber : Indragara – www.madiknas.com

Post Comment